Dewasa ini manusia sering menghendaki cara hidup yang lebih praktis. Namun mereka juga jarang ada yang mengetahui dampak – dampak hidup praktis bagi lingkungan sekitar kita. Kebanyakan dari kita hanya tahu cara memakai dan menghabiskan, bukan menghemat dan memperbaharuinya. Mungkin untuk saat ini alam masih bisa membantu kita, tapi bagamana hari- hari selanjutnya ? tidak ada yang bisa tahu.
Contohnya saja, pemakaian detergent pada rumah tangga. Detergent memang sangat membantu para ibu – ibu mengatasi noda pada pakaian. Tapi, kemana-kah sisa limbah hasil olahan detergent itu mengalir ? Tentu kita semua tahu, hasil buangan limbah cair dari perusahaan maupun rumah tangga akan mengalir ke sungai. Hasil limbah ini tentu saja akan sangat mengganggu aktivitas di sungai. Terlebih lagi aktivitas sejumlah orang yang bermukim di sekitar sungai, hal – hal ini pasti merugikan bagi lingkungan sungai ini. Bahkan kebanyakan dari kita tidak tahu, bahwa detergent dengan limpahan busa bukan-lah detergent yang baik. Karena banyak buih/ busa tidak berarti daya bersihnya akan jadi lebih tinggi, seperti pemikiran kebanyakan ibu-ibu.
Selain itu apakah zat yang terkandung pada detergent aman ? Menurut beberapa informasi yang saya telusuri melalui blog, sebagian besar kandungan pada detergent berbahaya bagi tubuh dan lingkungan alam sekitar kita. Beberapa zat kurang baik yang pada umumnya terkandung pada detergent antara lain :
- Surfaktan (surface active agent), umumnya tersusun dari alkyl benzene sulfonate rantai bercabang (ABS), alkyl benzene sulfonate rantai lurus (LAS) dan Alpha Olefin Sulfonate (AOS).
- Builder (pembentuk) yang berfungsi untuk meningkatkan efisiensi kerja surfaktan. Salah satu builder yang banyak digunakan adalah fosfat.
- Filler (pengisi) yang berfungsi untuk menambah kuantitas produk deterjen.
- Additives yang berfungsi untuk meningkatkan daya tarik produk ( pewangi, pemutih dan pewarna).
Detergent juga memiliki sifat karsinogen (Memicu kanker) serta, zat yang ada pada detergen ini dapat memacu pertumbuhan eceng gondok dan gulma air. Ledakan jumlah tanaman pengganggu ini akan menyumbat aliran sungai dan menimbulkan pendangkalan.
Tanaman yang menutup permukaan air menghambat masuknya sinar matahari dan oksigen ke air. Akibatnya, kualitas air menurun dan ikan-ikan makin susah hidup. Pengaruh yang sama juga terjadi jika busa detergen yang menumpuk di sungai-sungai menutupi per-mukaan air.
Adapun beberapa langkah atau cara-cara yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak negative dari penggunaan detergent, antara lain : Dengan memperhatikan surfaktan apa yang dipakai, LAS (Linear Alkylbenzene Sulfonat) atau LABS (Linear Alkyl Benzene Sulfonate) konon bisa terurai. Namun ABS (AlkylBenzene Sulfonate) tidak bisa, dan sudah masuk daftar hitamnya Greenpeace. Lalu, gunakanlah atau cari deterjen yang rendah fosfat. Ada pula cara rumit untuk menetralkan / membuat senyawa pada detergent terurai sebelum mengalir ke sungai.Agar senyawa detergen terurai, limbah harus mendapat sinar ultraviolet yang cukup dan diendapkan sekitar tiga pekan. Kita juga bisa melakukan cara sederhana yaitu dengan menggunakan sabun yang terbuat dari minyak kelapa sawit atau minyak hewan, yang aman bagi kesehatan dan mudah terurai di alam.(Teo)
