Minggu, 14 Februari tepat hari dimana orang – orang sedang sibuk membagi kasih sayang. Kami-pun tidak luput untuk melakukannya. Tidak seperti kebanyakan oarng, kami membagi kasih dengan lingkungan. Nah, pada tanggal itu pula kami tim cydoc (Bali Gadang) meliput sejumlah aktivitas di PPLH (Sanur). Kebetulan saat itu (Pk. 14.00) sedang di adakan diskusi hasil green map di PPLH. Saat itu setelah mengadakan research dan pelatihan, tim green map mempresentasikan hasil jerih payah mereka tentang sungai Ayung.
Tim green map di bagi dalam 2 kelompok, untuk meneliti dua arah sungai ayung (Barat dan Timur). Kelompok I adalah Kelompok yang menyusuri ayung bagian barat. Merereka pun mulai dengan menempel gambaran peta dan menerangkannya, teneu gambaran ini hasil dari turun lapang yang telah mereka lakukan. Mereka mulai menerangkan, dari aktivitas warga, profesi para penduduk sekitar, tata letak pemukiman, fakta – fakta musibah, bencana alam, hingga mitos – mitos y6ang mereka temukandari sungai itu,serta dampak negative dari perilaku warga sekitar. Tidak beda dengan kelompok I, Kelompok II-pun membahas hal serupa.
Presentasi itu pun mencetuskan hal- hal yang mungkin tak banyak orang yang tahu. Dari fakta hilangnya seorang bocah pada tahun 1992, musibah banjir hingga ketinggian ± 5 Meter di tahun 2009 jadwal usai MCK pada sungai, mitos hantu kepala bunting, bahkan kediaman yang di huni oleh wanita pekerja sex bebas. Bukan hanya membahas masalah dan cara mengatasinya serta menggali info yang lebih dalam. Mereka juga membahas tentang icon/symbol-symbol apa yang akan di letakan pada peta hijau mereka. Nantinya, icon-icon itu adalah icon yang dapat dimengerti secara garis besar Internasional. Mengutip dari kata Mbak Inu dan Om Ferry (selaku fasilisator tim green map), mereka memiliki tugas “Menyuarakan hal-hal yang tidak/ belum di suarakan oleh media lain” termasuk dengan menggunakan icon tersebut. Layaknya banyak hal penting yang sering di sepelekan oleh kita dan sering kita lupakan.(Teo)


